Gamilah Giddan Oleh: Muhammad Daud Farma, Lc Indonesia hari ini isinya selalu tentang nikah. Pergi ke kantor dapat undangan nikah dari kawan kantor yang baru aja kerja dua bulan lalu, mampir shalat di masjid ada yang sedang melangsungkan akad nikah sehingga aku shalat di pojokan, ke pasar ada emak-emak belanja untuk bekal pesta nikah, belanja online banyak yang menawarkan gaun pengantin dan jual emas untuk mahar nikah, ke tempat wisata ada pula yang lagi foto prewed yang bentar lagi juga bakal menikah, ke Kafe niat nongkrong bersama teman yang telah pada menikah dan mereka bercerita bagaimana nikmatnya punya pasangan setelah menikah, terus aku ini kapan pula menikah? Selalu pun kalian aja kutengok yang nikah, udah sering kali aku ya menghadiri orang nikah! Kalau ditanya kapan aku nikah, aku sudah mainstrim dengan pertanyaaan itu! Aku maunya ditanya berapa mahar calon istrimu? Walaupun memang belum punya sama sekali, setidaknya kan aku lebih lega dan terhibur aja dengan...
Panas Dingin
Bukan antara musim panas dan musim dingin. Musim dingin yang masih merajuk sebab tak disambut dengan ucapan "ahlan wamarhaban" oleh musim gugur, musim sebelumnya.
Musim panas yang belum bisa menerima kenyataan bahwa musim dingin telah tiba. Pun tidak mengenai senang, bahagia dan merana, sedih dan tawa, apalagi marah dan kecewa, bukan itu.
Tidak pula tentang kernet bus yang merasa penat, kemudian marah-marah pada penumpang yang berdiri di pinggir pintu bus tidak mau geser masuk ke dalam agar penumpang yang baru naik juga punya tempat. Tentu bukan juga antara supir taksi dan supir bus yang beradu mulut bahkan nyaris beradu otot akibat supir bus salah perkiraan, dia sangka tepat mengerem taunya nabrak bikin taksi dan macat. Gimana tidak macat? Mereka cerewet di tengah jalan. Ah, bukan tentang mereka banget deh!
Juga bukan antara Darrasah dan Hayyu 'Asyir: yang sama-sama sepakat bahwa naik bus jauh lebih cepat sampai ke Darrasah daripada naik gerobak yang dibawa himar alias keledai. Haha, enta ganin wala eih? Pun tidaklah tentang orang kedua Umam Transfer yang janjian ketemu depan Barakat jam 16:31 WK, ngirim pesan masuk via WhatsApp tiap sepuluh menit sekali. Harga buah anggur yang naik 5 Pound karena tidak musimnya lagi. Mama di flat:04 yang gendut, yang baik, yang cantik, yang paling manis tiap tanggal sepuluh. Yang setahun bisa ditbilang 12 kali saja keluar rumah. Haha, Ma'laiys ya Mama.
Bukan tentang Mahmud si penjual ikan bakar yang sering bilang padaku bahwa dia mengakui kecantikan akhwat Indonesia, padahal setahuku yang sering beli ke tempatnya adalah akhwat Malaysia, haha dia tidak bisa membedakan rupa-rupa Asia. Apalagi tentang Ibrahim kepala plontos? Yang kalau nagih uang air tidak pernah nanya kabar terlebih dulu, tidak pernah bilang: 'amil eih? Izayyak? Kullu sanah wa entu tahyyib, tidak pernah. Kalau udah awal bulan, jumpa di jalan, to the poit saja: ya, Sodiq, fulus moyyah?! Tapi asyik orangnya. Bahkan bukan tentang kebersamaan kami yang hari ini pergi dari Darrasah ke Hayyu 'Asyir, kemudian duduk manis, bercengkerama dan meneguk segelas jus yang telah menghilangkan dahaga. Tenggorokan yang terasa panas kemudian terasa dingin.Bukan. Hehehe.
Lalu ini tentang siapa? Ini adalah tentang seorang ibu paruh baya yang biasanya duduk dari pagi hingga sore di bawah pohon rindang. Aku niat menemuinya setelah balik, tapi sore ini aku tidak melihatnya lagi. Mungkin dia telah pulang? Panas itu ketika kita punya rezeki tapi menunda bahkan lupa memberi. Dingin itu mau berbagi. Bukankah dingin di hati jauh lebih kita inginkan daripada dingin di tenggorokan?
*Maaf lebay dan berlebihan.🙏😅
Sebenarnya sih, ini tentang hari ini. Tentang semuanya.😁
#daudfarma
Komentar
Posting Komentar