Gamilah Giddan Oleh: Muhammad Daud Farma, Lc Indonesia hari ini isinya selalu tentang nikah. Pergi ke kantor dapat undangan nikah dari kawan kantor yang baru aja kerja dua bulan lalu, mampir shalat di masjid ada yang sedang melangsungkan akad nikah sehingga aku shalat di pojokan, ke pasar ada emak-emak belanja untuk bekal pesta nikah, belanja online banyak yang menawarkan gaun pengantin dan jual emas untuk mahar nikah, ke tempat wisata ada pula yang lagi foto prewed yang bentar lagi juga bakal menikah, ke Kafe niat nongkrong bersama teman yang telah pada menikah dan mereka bercerita bagaimana nikmatnya punya pasangan setelah menikah, terus aku ini kapan pula menikah? Selalu pun kalian aja kutengok yang nikah, udah sering kali aku ya menghadiri orang nikah! Kalau ditanya kapan aku nikah, aku sudah mainstrim dengan pertanyaaan itu! Aku maunya ditanya berapa mahar calon istrimu? Walaupun memang belum punya sama sekali, setidaknya kan aku lebih lega dan terhibur aja dengan...
Berbobot, kok! Seorang senior bilang, "yang telah pulang tak satu pun berbobot!" Berbobot itu memang beda versi, ada yang menganggap dirinya sudah berbobot ketika banyak dapat job, seperti: diundang di suatu acara dan diminta memimpin do'a, jadi juri al-Quran, ceramah, khutbah, dan sebagainya. Semakin diundang menganggap diri sudah semakin berbobot, sebab berguna bagi masyarakat. Padahal sebenarnya, hal itu pun belum berbobot. Sebab seharusnya level alumni Timteng ya beda dengan ustadz yang alumni pondok. Kalau sekedar peran yang saya sebutkan di atas sudah dianggap berbobot, berarti tak ada bedanya dengan yang alumni pondok, bahkan yang masih mondok pun banyak dapat panggilan; ziarah, takziah, do'a, ceramah, khutbah dll. Lalu bagaimana seharusnya ukuran berbobot alumni Timteng? Seharusnya ya seperti yang dilakukan masyayikh: buka pengajian kitab-kitab sesuai urutannya, mulai dari level pemula hingga level akhir. Kalau tak mampu di bidang lain, setidaknya sesuai j...