Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Gamilah Giddan

Gamilah Giddan Oleh: Muhammad Daud Farma, Lc Indonesia hari ini isinya selalu  tentang nikah. Pergi ke kantor dapat undangan nikah dari kawan kantor yang baru aja kerja dua bulan lalu, mampir shalat di masjid ada yang sedang melangsungkan akad nikah sehingga aku shalat di pojokan, ke pasar ada emak-emak belanja untuk bekal pesta nikah, belanja online banyak yang menawarkan gaun pengantin dan jual emas untuk mahar nikah, ke tempat wisata ada pula yang lagi foto prewed yang bentar lagi juga bakal menikah, ke Kafe niat nongkrong bersama teman yang telah pada menikah dan mereka bercerita bagaimana nikmatnya punya pasangan setelah menikah, terus aku ini kapan pula menikah? Selalu pun kalian aja kutengok yang nikah, udah sering kali aku ya menghadiri orang nikah! Kalau ditanya kapan aku nikah, aku sudah mainstrim dengan pertanyaaan itu! Aku maunya ditanya berapa mahar calon istrimu? Walaupun memang belum punya sama sekali, setidaknya kan aku lebih lega dan terhibur aja dengan...

Jatuh Cinta Yang Istiqamaah

  Oleh: Daud Farma. Seperti Sabari kepada Lena, meskipun bertepuk sebelah tangan, Sabari tak putus asa mengejar dan berharap akan cintanya terbalas, pun hingga akhirnya Sabari menikahi Lena sebab dijodohkan ayah Lena lantaran Sabari bekerja di pabrik batu bata ayahnya Lena, dan ia paling rajin bekerja. Ayah Lena senang sekali pada Sabari. Meskipun setelah menikah dengan Sabari Lena tetap tidak mencintai Sabari, Lena pun menikah lagi dengan laki-laki lain setelah melahirkan anak dari Sabari bernama Zoro.   Lena pergi membawa anaknya Zoro dan berganti-ganti suami. Namun romansanya adalah di akhir hayat Lena berpesan pada anaknya Zoro agar menguburkannya di samping makam suami pertamanya Sabari dan tak luput menuliskan kata: Purnama Kedua Belas, kalimat tersebut adalah cara Sabara menggambarkan kecantikan Lena dulu yang pernah ia tulis di tisu untuk Lena. Hal itu karena ketulusan dan keistqamahan cinta Sabari kepadanya, dan ia membalas cinta itu sesudah Sabari tiada.  ...

Rihlah Ibnu Bathuthah

Alasan membeli dan ingin membaca buku ini sederhana sekali: "karena mendengar ceramah al-Ustadz Abdul Somad di Youtube tahun 2019."⁣ Udah lama pingin beli tapi duitnya kepakai mulu untuk kebutuhan lain, baru tercapai hari ini, 11/07/2020. Dengan ini dua buku telah terbeli dengan alasan itu. Tahun lalu buku yang berjudul: ar-Rahiq al-Maktum, buku sejarah baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.⁣ ⁣ Ustadz Abdul Somad menceritakan hari-hari menjelang nabi kembali ke sisi-Nya. Banyak jama'ah yang menangis di dalam vidio itu, tak terkecuali aku yang sedang menonton. Apa yang aku dengar di vidio ceramah beliau sama persis setelah apa yang aku baca di dalam kitab ar-Rahiq al-Maktum, dari situ juga terlihat Ustadz Abdul Somad ingatan beliau kuat tentang apa yang pernah beliau baca! MasyaAllah. Btw tentang buku itu sudah pernah aku cerita di feed lalu-lalu. ⁣ ⁣ ⁣ "Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Bathuthah adalah seorang pengembara (traveler), petualang (adventur...

Ayahku Bukan Pembohong

Dia seorang ayah yang senang bercerita kepada anaknya bernama, Dam. Cerita-ceritanya hebat! Bahkan kelak ia pun akan melanjutkan ceritanya itu kepada kedua cucunya, Zas dan Qon. Begitulah, setiap cerita tentu yang mendengar atau yang membaca penasaran apakah cerita itu benar atau hanya fiksi belaka?  Namun tiap kali Dam bertanya tentang kebenaran cerita itu, ayahnya tersinggung dan bersikukuh tetap bilang bahwa ceritanya  itu nyata. Malah ia melanjutkan cerita berikutnya dan seterusnya, lebih hebat dan lebih menarik lagi! ⁣⁣ ⁣⁣ ⁣⁣ Ayahnya bercerita tentang bahwa ayahnya adalah anak angkat Si Raja Tidur, seorang hakim hebat nan wibawa di suatu negeri, yang waktu kecilnya terkenal dengan anak yang suka tidur di kelas, kamar mandi dan semua tempat. Tentang ayahnya pernah berpetualangan dan bertemu suku Pungasa Angin, tentang ayahnya pernah ke Lembah Bukhara, tentang bahwa ayahnya dulu bertetangga dengan sang Kapten pemain bola terkenal dengan nomor punggung sepuluh, ayahnya bert...

Seribu Satu Malam

ألف ليلة و ليلة:⁣ Seribu Satu Malam⁣ ⁣ ⁣ Tentu Kamu telah sejak lama mendengar kalimat itu bukan? Tapi sudah pernahkah membaca bukunya? Kalau belum, berarti kita sama deng! Aku sejak SD telah mendengar kalimat itu, "Seribu Satu Malam" kudengar bak angin lewat saja tanpa ingat siapa yang pernah mengatakannya kepadaku. Dan tidak pernah kepikiran kalau kalimat itu ternyata adalah judul buku dari negeri yang jauh dari Asia, terlebih dari daerahku Kuta Cane. Sampai akhirnya masuk pesantren, kalimat tersebut kembali terdengar di telingaku, tapi versi arab dan indonesia. Ketika mengucapkan kalimat bahasa indonesianya aku benar, "Seribu Satu Malam" namun ketika mengucapkan bahasa arabnya suka terbalik. Kadang kubilang, "ليلة" baru kemudian, "ألف" terus, "ليلة". Pernah ada membenarkan , tapi jarak berapa hari kemudian ketika diulang salah lagi salah lagi. Bahkan saking salahnya kata, "ألف" di tengah dan "ليلة"  di antaranya. ...

My Name Is Daud

My name is Daud! Kata ibuku, aku  lahir pada  hari Sabtu pagi. Warna kulitku merah. Begini kudengar logat ibu saat  ia bercerita pada tetangga yang datang ke rumah kami, "Nak nde nge tule," ibu mengarahkan pandangannya kepadaku, "nggo megakhe da." katanya. Artinya warna kulihatku merah gelap.   Waktu kecil aku sama seperti anak yang lain, suka menangis, meringik dan tertawa. Hanya menangis dan tawa lah yang aku bisa. Suatu hari aku menangis begitu keras, sedikit mengkhawatirkan ibuku, tentu membuatnya gelisah. Suara tangisku pecah dan terdengar ke rumah tetangga sebelah. Aku ditimang ibuku, aku dielus, kepalaku disapu-sapu dengan tangan ibuku.  Tetapi aku tetap menangis, malah semakin menjadi-jadi. Ibuku heran, tidak pernahnya aku menangis sedemikian kerasnya. Dia tempelkan tangannya pada keningku, tak ia rasakan badanku panas. Hampir ia melarikanku ke dokter kalau lah tetangga ibuku itu tidak datang ke rumah kami karena tangisku. Dia istri dari abang ayahku yan...

Rahasia Kecil Sebatang Pohon Kurma

T iap kali dibutuhkan persyaratan foto copy Paspor, KK, SKAK, Buku Rekning dan KTP, selalu buka map lalu tampak sertifikat ini. Adalah perlombaan internasional antar mahasiswa indonesia di luar negeri yang pertama kali aku ikuti. Kabar baiknya cerita mini (cermin) karyaku ikut terpilih. Yang mengadakan Sayembara Cerita Mini ke 3 ini adalah PPI Hadhramaut Yaman. Juara satu hadiahnya sebesar Rp. 1,000,000, naskah dibukukan, sertifikat. Juara dua: Rp.750,000, naskah dibukukan, sertifikat. Juara tiga, 500,000, naskah dibukukan dan sertifikat. Empat sampai lima puluh: naskah yang dibukukan dan sertifikat.  Juara satu dan dua dari PPI Yaman, ketiga PPI Maroko. Selebihnya dari berbagai PPI se-Timur Tengah dan Afrika. Tak terkecuali Mesir. Dari Mesir (Masisir) yang terpilih adalah sebagai berikut: (sesuai urutan dan poin):⁣ ⁣ 14. Zahra As'ad: Namaku Adalah Perbedaan (Poin: 240).⁣ 15. Farhan Zihadi: Penggoda, (Poin 240).⁣ 34. Rahmah Rahim: Merajut Cinta, (Poin: 225).⁣ 37. Daud Farma: Rahasi...

di Tepi Sungai Dajlah Karya Buya Hamka

M ungkin, bagi peminat sejarah tidaklah membosankan jika membaca buku sejarah yang di dalamnya dipenuhi angka-angka. Tapi bagi yang tidak minat, hal itu amat sangat membosankan, bahkan di-skip! Tapi indahnya, di dalam buku karya Buya Hamka ini, ( di Tepi Sungai Dajlah), Buya Hamka mengajak kita berjalan-jalan, mengeliling kota Baghdad (Irak), dengan traveling ini beliau menyuguhkan sejarah kota Baghdad.  Ini buku sejarah, tapi cara penulisan Buya Hamka seakan kita sedang membaca novel, asyik! Walaupun tidak ada kejadian yang menegangkan, bikin mewek, romantis seperti novel, tetap ini adalah buku yang bikin semangat terus membacanya sampai akhir halaman. Value-nya tentu sejarah, nuasa islam kejayaan kota Baghdad hingga runtuh, tumbang!⁣ ⁣ ⁣ "Baghdad jatuh bukan karena kesalahan orang lain, melainkan karena pengkhianatan dari wazir sendiri, wazir yang bernama al-Alqami. Kelemahan bukanlah terletak pada senjata dan persiapan-persiapan alat perang, melainkan terletak pada jiwa jiwa pe...

Di Bawah Lindungan Ka'bah

Ya Allah, mengalir air panas dari mataku membaca buku ini.😭⁣ -------------⁣ ⁣ Di tahun 1927 tokoh aku sebagai sudut pandang orang pertama dalam buku ini melakukan ibadah haji dari pelabuhan Belawan ke Jeddah. Lima belas hari lamanya berlayar tibalah ia di pantai Laut Merah.⁣ Sampai di Mekah dia menumpang di rumah salah seorang Syekh. Kamar itu berukuran kecil dan muat dua orang. Dan ia satu kamar dengan seorang anak muda yang kira-kira usianya 23 tahun. Badannya kurus lampai, rambutnya hitam berminyak, sifatnya pendiam, suka berenung sendirian. Dia terkenal saleh dan pintar. Namanya Hamid. Tokoh si aku kerap sekali mengajak Hamid mengobrol soal dunia dan ihwalnya, tapi segera Hamid mengalihkan pembicaraan yang lebih bermanfaat, soal agama.⁣ ⁣ ⁣ Baru dua bulan tokoh aku dan Hamid berkenalan, keduanya merasa sudah akrab.  Tetapi kiranya ada satu peristiwa yang tengah dialami Hamid, ada kegundahan yang tak dapat ia bagi ke siapa pun, termasuk temannya si tokoh aku yang satu rombongan...