Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Unggulan

Menumbuhkan Minat Baca Lewat Fathul Kutub

Menumbuhkan Minat Baca Lewat Fathul Kutub Fathul Kutub adalah salah satu program wajib yang diikuti oleh santri dan santriwati kelas 6 KMI Dayah Perbatasan Darul Amin. Kuta Cane Aceh Tenggara.  Fathul Kutub ialah kegiatan membuka kitab kuning guna membaca dan menelaah serta memperluas ilmu pengetahuan santri tentang kitab turats (kitab klasik karya ulama terdahulu). Kegiatan ini diawali dengan pembekalan oleh al-Ustadz Ahmad Paruqi Hasiholan, S.Pd., selaku direktur KMI Dayah Perbatasan Darul Amin. Selasa malam, 12 Maret 2024. Beliau menyampaikan pentingnya bahasa arab sebagai cikal bakal karena bahasa Arab adalah kunci dalam fathul kutub ini. Kemudian pada Rabu pagi, 13 Maret 2024 kegiatan Fathul Kutub dibuka oleh al-Ustadz Drs. H. Muchlisin Desky, MM., selaku Rais Aam Dayah Perbatasan Darul Amin. Beliau menyampaikan pentingnya sikap tawadhu' atau ilmu padi, semakin tua semakin berisi dan menunduk, dan juga tidak sombong, jadilah pribadi yang selalu merasa diri seperti botol kosong

Perasaan Yang Terpendam

Perasaan Yang Terpendam Oleh: Daud Farma Suka adalah sebuah kata ungkapan perasaan. Awalanya aku punya rasa lalu kusebut ia dengan kata cinta, lebih khususnya adalah sayang. Namun kata sayang lebih spesifik lagi dan mengatakannya bila memang benar-benar sayang. Tidak mudah mengungkapkannya untuk yang tidak dikenal. Tapi ada saja pertama jumpa kata itu juga terlontarkan begitu saja, sebab lidah boleh saja berbohong tetapi hati susah untuk tidak mengakuinya, akhirnya lidah pun refleks mengucapkannya. Aku sayang kamu? Mungkin kamu jangan percaya dulu bila aku mengatakannya sekarang lewat lisanku, walaupun terkadang terkesan manja dan benaran. Cukup nanti kamu tentukan kepercayaanmu lewat pembuktian dariku.  Mungkin saat aku bertemu denganmu, melakukan perjalanan minimal dengan jarak tempuh satu jam-an. Mungkin seperti dari Petisah ke Johor lalu dari Johor ke UIN Medan, sudah lumanyan jauh. Kita kan bercerita tentang banyak hal. Mulai dari ma

Laper dan Winter

Laper dan Winter Oleh: Daud Farma Musim dingin bawaannya lapar terus!  Sejak 2014 silam sampai sekarang dia tetap istiqamah jualan hingga adzan subuh. Lepas subuh dia tidur karena sejak kemarin belum tidur. Kalau aku turun jam 1, 2 dan 3, aku ke tempat dia. Lokasinya depan pom bensin, tetangga cafe, mengarah ke Hadiqah Al-Azhar. Tapi kalau turunnya subuh, aku ke Math'am Kusyarie.⁣ ⁣ Lokasinya di  pertigaan Darrasah. Jalan kaki dua menit dari tempat tinggalku. Depan Barakat seberang jalan atau depan Markas Shin ataupun Asob. Rumah makan ini buka 24 jam! Mau musim panas dan musim dingin, tetap buka. Pembelinya ramai mulai jam 11 pagi hingga 11 malam. Di atas jam tersebut adalah kebanyakan jomblo yang makan. ⁣ ⁣ Pun aku, biasanya kalau bosan dengan lauk di rumah, kalau tidur cepat dan bangun malam, rasa malas masak lebih besar dibanding malas turun dari lantai 7 dan datang ke Kusyarie. Kadang setelah salat subuh juga mampir di Kusyarie.⁣ ⁣  Seperti bias

Santri Baru

Santri Baru Oleh: Daud Farma Perkenalkan, namaku, Habib. Aku tinggal bersama ayah, ibu dan adik-adikku di Desa Buah Duku. Ya, nama desaku Buah Duku. Desaku adalah surga bagiku dan mungkin juga desamu adalah surga bagimu.  Aku resmi lulus SD Negeri Salim Pinim yang tidak terlalu jauh dari kampungku, hanya dua puluh menit dengan berjalan kaki. Tujuh tahun di SD Salim Pinim membuatku susah berpisah darinya, guru-guruku, teman-temanku, gedung dan halaman sekolah yang setiap paginya aku dan teman-temanku senam pagi sebelum masuk kelas. Wali kelasku, Pak Jamrin adalah guru yang kami cintai, beliau adalah guru terfavorit dari  yang favorit. Mungkin kalian bertanya kenapa aku tujuh tahun di SD? Ya aku tidak pernah berbohong untuk menjawab kenapa aku tujuh tahun lamanya di SD?, itu karena kemalasan dan kenakalanku dan juga karena kebodohanku. Di kelas tiga SD, aku belum bisa membaca dengan baik dan benar, sehingga ibu guruku yang bernama Inong, tidak memberikan kenaikan kelas u

Ruz Bil Bashal

Ruz Bil Bashal Oleh: Daud Farma Lokasinya di  pertigaan Darrasah. Jalan kaki dua menit dari tempat tinggalku. Depan Barakat seberang jalan atau depan Markas Shin ataupun Asob. Rumah makan ini buka 24 jam! Mau musim panas dan musim dingin, tetap buka. Pembelinya ramai mulai jam 10 pagi hingga 10 malam. Di atas jam tersebut adalah kebanyakan jomblo yang makan.  Pun aku, biasanya kalau bosan dengan lauk di rumah, kalau tidur cepat dan bangun jam 1 malam, aku turun dari lantai tujuh dan datang ke tempat ini. Kadang setelah salat subuh juga mampir di sini. Seperti biasa aku mesan Kusyarie dan kadang Ruz Bil Bashal. Enak! 10 L.E kenyang! Hanya Math'am Kusyarie ini yang buka 24 jam di Gamaliah. Jadi ya kalau musim dingin kan suka lapar, bawaannya pingin makan mulu, ya datanglah ke tempat ini. Salathah-nya selalu hangat! Cocok banget deh disantap kalau lagi cuaca minus 20 derajat celcius kebawah.  Atau bisa juga beli ayam bakar seharga 35 L.E, tapi bukanya cuma sam

أنا وزوجتي

Oleh: Daud Farma Wah senangnya! Akhirnya aku menikah juga. Akhirnya aku punya suami juga dan penantianku tidaklah sia-sia. Di dalam hidup ini kita akan sering menunggu orang lain, dan aku menunggu seseorang yang akhirnya menjadi suamiku juga meskipun dia sudah pernah menikah dengan sahabatku sendiri. Tetapi aku tidaklah membenci sahabatku itu, apalagi membenci orang yang sekarang telah jadi suamiku? Tidak akan! Tidak mudah bagiku membenci orang yang cintaku padanya telah bersemi di dalam hatiku. Tidak mudah bagiku membenci orang yang telah 44 tahun kutunggu dan tidak mudah pula bagiku membenci orang yang selama ini membuatku tetap semangat hidup. “Bangun sayangku, ayo sarapan.” Aku membangunkan suamiku dengan kecupan dan mengajaknya sarapan. Telur mata sapi adalah sarapan pagi kami, sesuai janjiku dulu sebelum menikah bahwa telur mata sapi adalah menu untuk sarapan. Suamiku tidak jarang melarangku agar jangan memanggilnya sayang di depan anak tunggal kami, Dewi. Tetapi aku

Tidak Beruntung

Tidak Beruntung Oleh: Daud Farma "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" Eropa boleh punya Romeo dan Juliet, dari Afrika ada Laila dan Majnun, dan dari Asia juga tidak kalah, ada; Zainudin dan Hayati. Tepatnya dari Indonesia pulau Sumatera Barat. Romeo dan Juliet memang kisah cinta yang menyedihkan, diakhiri dengan kematian. Tapi yang tak kalah menyentuh jiwa adalah kisah cinta yang dilalui dengan kesucian, seperti karya Buya Hamka. Cinta Zainudin pada Hayati begitu besar! Tapi penulis memberitahu agar makhluk tidak kalah dengan cinta pada sang Khaliq, Allah Swt. Qois dan Laila, Zainudin dan Hayati, adalah kisah cinta yang bernasib tidak beruntung. Saling mencintai namun tak bersemi. Penuh dengan cobaan, dan mereka tidak mampu menaklukkannya. Kenapa? Karena "takdir" berkata lain. Novel ini ditulis dengan tutur bahasa yang indah, dengan gaya uslub khas Minang Kabau, khas melayu. Kehalusan bahasanya berasa berada di era tahun tiga puluhan, nampak betu

Maaf

Kita pernah punya perasaan yang sama. Asa dan mimpi yang sama. Kita pernah bahagia, tawa dan canda dengan kalimat-kalimat yang terjalin dalam nuansa tempat dan waktu yang berbeda, jauh namun terasa benar-benar ada. Kita pernah searah Berniat menikah Ingin berumah tangga Ingin berkeluarga Sakinah mawaddah warahmah hingga ke jannah-Nya Kita pernah romantis Saling memberi kesan yang manis Meleburkan nestapa Meskipun tak jarang Kau terluka oleh kata-kata  Aku terlalu kasar berkata-kata Kita pernah benar-benar marah Tangkai mawar merekah pun patah Kau menangis gundah Aku benar-benar merasa bersalah Mungkin karenaku sering membuatmu menangis kini Kau menyerah Tidak kuat lagi meneruskan yang terjadi sudah Kemudian janji yang dulu Satu tujuan itu Harapanmu Kau hilangkan perlahan Kau berkata sibuk Aku percaya Aku berlapang dada Menerima keputusanmu bahwa Kau tak boleh diganggu Aku hanya menurut Dan ikuti arusmu K

Syaikh Ahmad Ibrahim Abdul al-Jawad

Syaikh Ahmad Ibrahim Abdul al-Jawad Oleh: Muhammad Daud Farma Musim panas sudah tak sabar ingin menggantikan posisi musim semi yang terlalu betah bertahan. Sempat musim panas tiba-tiba narsis dan seakan membakar penduduk Mesir, “Sabar Om, belum giliranmu!” begitulah kira-kira kata yang diucapkan musim semi sehingga musim panas pun ciut dan tau waktu kemudian berlalu menyembunyikan diri.  Hanya hitungan minggu saja sih sebernarnya puncak musim panas akan datang, dua, tiga empat atau lima minggu lagi. Lebih tepatnya bulan ramadhan nanti adalah puncak dari musim panas.  Sekarang ini hari-hari di Mesir sama seperti hari biasa di Indonesia, awan cerah namun tidak pula panas. Untuk sekarang keluar rumah tidaklah terlalu bikin gerah. Aku keluar dari rumah bersama seorang sahabat yang empat jam lalu aku unggah fotonya yang sedang tertidur pulas karena lelah membaaca, nikmat betul tidurnya.  Sampai di pertigaan itu ia belok kiri menuju tempat ngaji dan aku belok