Gamilah Giddan Oleh: Muhammad Daud Farma, Lc Indonesia hari ini isinya selalu tentang nikah. Pergi ke kantor dapat undangan nikah dari kawan kantor yang baru aja kerja dua bulan lalu, mampir shalat di masjid ada yang sedang melangsungkan akad nikah sehingga aku shalat di pojokan, ke pasar ada emak-emak belanja untuk bekal pesta nikah, belanja online banyak yang menawarkan gaun pengantin dan jual emas untuk mahar nikah, ke tempat wisata ada pula yang lagi foto prewed yang bentar lagi juga bakal menikah, ke Kafe niat nongkrong bersama teman yang telah pada menikah dan mereka bercerita bagaimana nikmatnya punya pasangan setelah menikah, terus aku ini kapan pula menikah? Selalu pun kalian aja kutengok yang nikah, udah sering kali aku ya menghadiri orang nikah! Kalau ditanya kapan aku nikah, aku sudah mainstrim dengan pertanyaaan itu! Aku maunya ditanya berapa mahar calon istrimu? Walaupun memang belum punya sama sekali, setidaknya kan aku lebih lega dan terhibur aja dengan...
Mataku terpejam satu jam sembari berdiri untuk mengingat masa yang kelam. Ketika kubuka kembali, mataku berkunang-kunang.
Kucoba mengingat semua yang pernah kulakukan bersama kalian, canda tawa dan duka yang pernah kita lalui bersama.
Kucoba mengingat semua yang pernah kulakukan bersama kalian, canda tawa dan duka yang pernah kita lalui bersama.
Sering kubertanya sendiri: kapan kita bersua kembali?
Sahabat, bukankah perpisahan kita ini adalah untuk saling merindukan satu sama lain? Benar, dan bukan untuk benar-benar berpisah.
Sahabat, bukankah perpisahan kita ini adalah untuk saling merindukan satu sama lain? Benar, dan bukan untuk benar-benar berpisah.
Mengingat masa lalu adalah bagaikan sebuah cahaya yang indah bak cahaya yang dimiliki sang kunang-kunang. Bukan sihir, tapi ia adalah energi yang sempurna. Bukan rasa rindu yang cuma-cuma, tapi ia adalah rindu yang membahana dan luar biasa!
Ungkapan rinduku adalah rasa bahwa aku yang sedang mengaku tidak sanggup sendirian, tidak sanggup dengan kesunyian, ingin bersama seperti dulu bersama kalian duhai teman-teman.
Kenang-kenangan yang dulu pernah ada adalah cahaya kunang-kunang yang sedang kurasa. Cahayanya menyinari kegelapan, sebab ketika mata kupejamkan maka tak terlihat lagi indahnya bintang maupun bulan.
#sekarang coba pejamkan matamu, Kawan. Apakah kamu melihat kunang-kunang? Jika ada, maka itu adalah cahaya rinduku yang berupa keajaiban. Jika tidak ada berarti kamu ketiduran, Kawan.
Merammu kelamaan!
Merammu kelamaan!
#hihihi
*Farma
Komentar
Posting Komentar