Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Gamilah Giddan

Gamilah Giddan Oleh: Muhammad Daud Farma, Lc Indonesia hari ini isinya selalu  tentang nikah. Pergi ke kantor dapat undangan nikah dari kawan kantor yang baru aja kerja dua bulan lalu, mampir shalat di masjid ada yang sedang melangsungkan akad nikah sehingga aku shalat di pojokan, ke pasar ada emak-emak belanja untuk bekal pesta nikah, belanja online banyak yang menawarkan gaun pengantin dan jual emas untuk mahar nikah, ke tempat wisata ada pula yang lagi foto prewed yang bentar lagi juga bakal menikah, ke Kafe niat nongkrong bersama teman yang telah pada menikah dan mereka bercerita bagaimana nikmatnya punya pasangan setelah menikah, terus aku ini kapan pula menikah? Selalu pun kalian aja kutengok yang nikah, udah sering kali aku ya menghadiri orang nikah! Kalau ditanya kapan aku nikah, aku sudah mainstrim dengan pertanyaaan itu! Aku maunya ditanya berapa mahar calon istrimu? Walaupun memang belum punya sama sekali, setidaknya kan aku lebih lega dan terhibur aja dengan...

Subuh

Sudut-sudut kota Kairo telah sepi. Satu persatu lampu-lampu itu dimatikan. Angin dingin berembus sepoi-sepoi mengelus manja kucing-kucing kurus tak bertuan yang tidur pulas di pojok dekat penjual roti gandum ('Iys). Pedagang buah dekat masjid itu belum merasa kantuk padahal dia buka sejak pukul sebelas pagi kemarin hari. Angka waktu di layar gawaiku saat ini menunjukkan pukul 04:10 CLT.  Gang-gang rumah di sekitar tempat tinggalku sejak pukul 23:32 tadi telah sepi, tidak ada nyanyian lagi. Beda sekali dengan kemarin lagu-lagu 'Amiyah Mesir yang disetel sekeras-kerasnya di dalam sebuah flat karena ada yang menikah. Mereka terpaksa menjadikan flat mereka jadi tempat pesta karena Korona. Tamu undangan pun hanya keluarga terdekat saja.  Lagu-Lagu romantis Tamer Husni dan Amr Diyab mendayu-dayu di telinga-telinga tetangga. Agaknya lagu itu saja, tapi nyatanya tidak-nyanyian di TukTuk yang susah ditebak artinya jika tidak membaca liriknya itu juga ter -Play secara otomatis. Padahal...

Menulislah, Kawan

Saya sejak 2015 hingga tahun ini masih aktif mengirim tulisan ke Islampos. Tidak pernah absen. Macam-macam kolom yang saya isi; renungan, opini, syi'ar, review buku, jodoh dan cerita pendek. Pernah beberapa kali mengirim resensi buku/kitab tetapi tidak dimuat, sebab terlalu banyak words/kata sedangkan Islampos maksimal dua sampai empat halaman Mc Word saja.  Biasanya kalau telah di-publish ke Islampos, website lain juga me-repost. Dari dulu sampai sekarang tulisan saya yang banyak dibagikan pembaca Islampos ialah tentang renungan dan jodoh.  Proses kreatif dan produktif menulis tiap orang berbeda-beda, saya pribadi melalui halaman Facebook, Blog, RRI dan Islampos dan dua tahun belakangan ini juga aktif di platform Kwikku.  Sebenarnya pernah ingin berhenti menulis, tidak mau lagi menulis apa pun, namun kennyatannya proses kreatif yang telah lama diasah sejak bertahun-tahun-sejak SMP, seakan tidak siap mengakhiri jiwa dan semangat menulis saya. Ada ide terlintas di akal, te...

Salahkan Setan?

Salahkah Setan?  Daud Farma  M anusia kerap sekali menyalahkan setan, menyesali kesalahan dan dosa-dosa yang ia perbuat karena setan. Telah memfitnah orang lalu salahkan setan, telah mengadu domba kemudian menyalahkan setan, telah menggunjingi tetangga yang barusan punya bini dua lantas menyalahkan setan, selingkuh salahkan setan, jadi penggombal wanita (زير النساء) salahakn setan, makan duit haram salahkan setan, malas  baca al-Quran terus salahkan setan, bolos ikut kajian salahkan setan, malas turun dari lantai tujuh untuk jamaah di masjid salahkan setan, subuh kesiangan salahkan setan, telat jumatan salahkan setan, durhaka sama kedua orang tua salahkan setan, semuanya salah setan, tidak introspeksi diri, tidak menyalahkan diri sendiri yang berperan lebih besar berbuat dosa daripada sebab bisikan setan. Sedangkan setan hanya membisikinya sekejap saja, dan tipu dayanya sungguhlah lemah. Bisikan setan sebenarnya hanya sekali lewat saja, sekilas saja, seperti singgah seben...

Khayalan Pembaca

Setiap orang punya khayalan yang berbeda-beda atas buku fiksi yang ia baca. Di mana penulis telah menggambarkan tempat dan suasana yang telah dia lihat sedangkan pembaca hanya membaca rangkain kata demi kata dari penulis. Saya suka baca buku jenis nonfksi dan fiksi. Bacaan saya bergam tentunya. Sebagai pembaca buku cerita, setelah selesai membaca buku itu saya dibikin penasaran bagaimana filmnya, lokasi yang mengarahkan imajinasi saya, khayalan yang tercipta di kepala dan sebagainya. Tetapi kadang kekhawatiran pun datang. Saya khawatir filmnya akan mengecewakan. Pun setelah tau betul dan mengalami datang ke denah cerita yang disebutkan juga tidak memuaskan. Maka kadangkala kita tidak ingin  mengacaukan imajinasi yang telah nangkring manis di kepala. Cukuplah ia jadi imajinasi yang luar biasa indah dan menarik. Lalu apakah penuli telah berdusta dengan hal itu? Oh tidak begitu! Imajinasi pembaca mengalahkan isi cerita yang dituliskan penulis. Bisa jadi ketika saya menulis sebuah ceri...

Embun Hidayah Subuh

Embun Hidayah Subuh  Daud Farma S ungguh, subuh hanyalah dilakukan pada waktu subuh, yaitu saat adzan subuh dikumandangkan maka telah masuklah waktu subuh.  Banyak sekali orang ingin berjamaah subuh di masjid. Selepas shalat isya ia langsung tidur dalam keadaan masih ada wudhu. Segala urusan ia tinggalkan, ia berdamai dengan mimpinya, tidur senyenyaknya dan terbangun sebelum adzan subuh berkumandang. Dia wudhu dan siap-siap berangkat ke masjid untuk subuh berjamaah. Ada yang sengaja tidur setelah magrib ataupun setelah waktu isya, namun ia belum shalat isya, dengan harapan membawa beban shalat isya ke dalam tidur agar terbangun satu jam sebelum waktu subuh untuk shalat isya lalu berjaga sampai subuh, mengaduk kopi, membaca buku, belajar, sampai ketika telinganya mendengar kalimat, "Allahu Akbar, Allahu Akbar", ia berangkat ke masjid untuk shalat subuh.  Adapula hal serupa, bergadang semaunya dan sesanggupnya. Jelas terdengar suara sang mu'adzin mengumandangkan adzan subuh...

Putra Aceh Tenggara Pertama Ke Mesir

Dr. H. Bukhari Husni, MA Daud Farma P ada tahun 1978 Masehi buya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tuanya. Buya adalah asli putra daerah Kuta Cane  Aceh Tenggara dan yang pertama kali belajar ke Mesir. Di masa beliau seluruh mahasiswa Aceh di Mesir hanya ada enam belas orang ketika itu. Dua di antaranya adalah; Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim, MA. Guru Besar UIN Ar-Ranniry dan Anggota MPU Aceh (Untuknya, al-Fatihah). Prof. Dr. H. Azman Ismail, MA. Ketua Senat Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, dan Ketua Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman-Banda Aceh. Buya tinggal di Gamalia, tidak jauh dari masjid Sidna Husain. Buya sempat bertalaqqi kepada Syekh Sya'rawi yang ketika itu mengajar di masjid Sidna Husain.  Sewaktu menemani beliau berkeliling sekitar Kairo, buya banyak bercerita bagaimana keadaan Kairo 43 tahun silam. Misalnya ketika kami tiba di Darrasah, beliau hampir saja tidak mengenali titik-titik yang kami lewati. Telah berubah delapan puluh persen dari segi bangun...

Kumpulan Gambar Buku yang aku beli

Syekhuna Sya'rawi

Syekh Muhammad Metwalli al-Sha'rawi Sejak pertama kali saya menuntut ilmu di negeri para ambiya', negeri para ulama, negeri Al-Azhar Al-Syarif, saya begitu sering mendengar nama Syekh Sya'rawi disebutkan orang-orang sekitar saya.  Baik teman-teman sesama pelajar ataupun orang Mesir di wilayah saya tinggal dan yang saya temui-berpas-pasan di jalan, di kendaraan umum, jumpa di masjid, warung-warung kecil, mall, di ibu kota, di pelosok desa, di tv, di radio, di dinding-dinding segala bangunan, di banyak tempat dan kesempatan.  Nama Syekh Sya'rawi terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terasa akrab di hati dan jiwa. Siapakah beliau sehingga begitu cintanya masyarakat Mesir kepada Syekh Sya'rawi? Nama lengkap Syekhuna: Muhammad Mutawalli al-Sya'rawi.  Lahir pada tanggal 15 April 1911, di desa Dakadus (دقادوس) , Mit Ghamr (ميت غم  ) , Ad-Daqahliyah ) (الدقهلية)  , Mesir provinsi Tanta (طنطا).  Beliau merupakan ulama mujadid pada ...

Thawiyyah Daud Farma

Repost dan Foto dari mbak: Jihan Mw Baca novel fiksii lagi setelah sekian lama ngga baca novel. Apalagi genre romance yaa. Baca ini jadi keinget zaman surat-suratan. Zaman masih belum kenal whatsapp atau yg semisal. Kisah Tha dan Wi, begitu panggilan dua sejoli ini. Ngikutin alurnya yang lumayan cepet di awal dan ikut deg-degkan, bagaimana selanjutnya hubungan yang hampir tidak pernah melibatkan tatap muka ini? Jangan nanya video call ya, lha wong WhatsApp aja ngga kenal lho mereka. Jadi ya begitulah, salut banget dengan cinta yang besar dan ikhlas dari keduanya. Bertahan bertahun-tahun hanya dengan saling mengabari lewat surel. Ikut pesimis ketika ada yang melamar sang wanita. Lalu gimana dong lanjutannya? Baca bukunya aja ya. #novel #Thawiyyah