Aku orang yang selalu penasaran tentang apa di balik tembok, di seberang sana, setelah ini ada apa aja? Ketika aku kecil, belum SD. Dua kakak perempuan sepupuku berjodoh dengan orang Gayo Lues. Dua puluh dua tahun kemudian, anak bang we-ku pula berjodoh dengan penduduk Agusen-Gayo Lues. Pertama kali aku melewati perbatsan Aceh Tenggara-Gayo Lues pada tahun 2009, tapi kata ibu ketika aku usia dua tahunan aku pernah dibawa ke Rikit Ghaib yang ketika itu menjenguk kakak sepupu melahirkan bayi pertamanya sebelum akhirnya ia pindah ke Takengon. Tahun 2009, ketika itu aku masih kelas 2 KMI (SMP) dan 10 teman-temanku diutus sebagai perwakilan pondok (DPDA) untuk mengikuti lomba pencak silat di Lhoksukeun dan kami membawa tiga piala, waktu itu hanya lewat saja, tidak singgah, cuma dapat melihat monunen kotanya Belang Kejeren. Kedua pada tahun 2011 ketika saya kelas 4 KMI (1 SMK) kami diutus sebagai perwakilan dari pondok untuk ajang lomba...
Mau Masuk Surga Kok Dua Ribu Rupiah?
Oleh: Daud Farma.
Ungkapan ini sering kali kita dengar dari pembicara-pembicara yang berbicara di depan audiences. Yang sebenarnya kalau kita tafsirkan ia punya maksud yang lebih dari satu.
Jika dua ribu ini di posisi orang yang berduit, yang selalu mencari recehan untuk diberikan (disedakhakn, diinfakkan atau semacamnya), maka dua ribu rupiah adalah sebuah pengorbanan yang tak sebanding dengan apa yang ia harapkan, yaitu berupa balasan surga. Kita tidak berfokus pada kata "sebanding" dulu, sebab tak ada hal apa pun di dunia ini yang sebanding dengan nikmat Allah, lebih-lebih adalah surganya Allah Subhanahu wata'ala.
Dua ribu rupiah di tangan orang yang mudah mendapatkannya memang dianggap hal yang tak seharusnya ia lakukan, jika penghasilan bulanannya adalah gaji UMR atau pun pengusaha, pedagang dan lainnya yang omsetnya bisa ratusan juta perbulan. Maka dua ribu rupiah di tangan mereka kita pandang sebagai nilai yang sangat rendah dan tak selayaknya diberikan kepada orang lain jika ia berharapan dapat balasan yang jauh lebih besar dibanding itu, meskipun ia ikhlas. Benar janji Allah satu kebaikan nilainya dilipatkan sepuluh kali lipat dan kelipatan ganda lainnya, namun dua ribu rupiah memang pantas dipertanyakan keseriusannya dalam berharapa, surga?
Berbeda dengan yang sehari mungkin cuma makan sekali bahkan tidak pernah makan nasi dalam seminggu, hanya makan roti tawar dengan cara berhemat atau menunggu santunan dan hajatan orang lain. Maka dua ribu rupiah adalah nilai yang besar! Meskipun mereka tidak ikhlas. Oleh karena itu, dua ribu rupiah tidaklah bisa disama ratakan nilainya dengan yang berduit.
Masalahnya, kita tidak tahu mana yang benar-benar berduit atau tidak!? Sebab zaman ini, yang kelihatannya sederhana, ternyata berpunya. Hanya saja ia tidak menampakkannya. Maka pembicara-pembicara di depan menghukumi secara zhahir saja untuk kemudian pendengar lah menilai mana yang dimaksud, tinggal disesuaikan dengan fakta di lapangan. Tentu yang kita ketahui hanyalah orang-orang sekitar kita saja, takkan mungkin kita intip-intip gerak-gerik anggota DPR RI.
Maka harapannya, bagi yang berduit, cobalah mudah tangan memberikan minimal seratus ribu untuk setiap kesempatan. Jangan pelit, Allah Maha Melihat, tetangga juga pengamat, hati-hati jika berbuat, setidaknya siapkanlah yang angka nolnya lebih dari empat. Jangan terpancing dengan ungkapan, "daripada tidak sama sekali?" Wallahu 'alam.
Gamaliyah, 10/8/2023
Komentar
Posting Komentar