Gamilah Giddan Oleh: Muhammad Daud Farma, Lc Indonesia hari ini isinya selalu tentang nikah. Pergi ke kantor dapat undangan nikah dari kawan kantor yang baru aja kerja dua bulan lalu, mampir shalat di masjid ada yang sedang melangsungkan akad nikah sehingga aku shalat di pojokan, ke pasar ada emak-emak belanja untuk bekal pesta nikah, belanja online banyak yang menawarkan gaun pengantin dan jual emas untuk mahar nikah, ke tempat wisata ada pula yang lagi foto prewed yang bentar lagi juga bakal menikah, ke Kafe niat nongkrong bersama teman yang telah pada menikah dan mereka bercerita bagaimana nikmatnya punya pasangan setelah menikah, terus aku ini kapan pula menikah? Selalu pun kalian aja kutengok yang nikah, udah sering kali aku ya menghadiri orang nikah! Kalau ditanya kapan aku nikah, aku sudah mainstrim dengan pertanyaaan itu! Aku maunya ditanya berapa mahar calon istrimu? Walaupun memang belum punya sama sekali, setidaknya kan aku lebih lega dan terhibur aja dengan...
Tidak banyak yang mengenalkanku pada Al-Azhar. Dulu waktu kelas 3 SMP atau 3 KMI di pesantren, tidak sengaja aku diajak seorang temanku untuk nonton bareng di gedung SMK di dalam komplek pondok kami. Waktu itu aku tidak tahu bahwa film yang sedang diputar di layar tancap pada tahun 2010 itu adalah film KCB, dan aku telat datang. Kebetulan saat aku datang adalah saat Khairul Azzam berdialog di depan benteng Qitbay, lalu kemudian aku nonton sampai akhir. Aku kagum dengan bahasa arab yang mereka ucapkan saat mengobrol di beberapa tempat, terlebih saat kamar kos mereka didatangi polisi. Aku belum pernah dengar bahasa arab seperti itu. Tidak mirip dengan yang kami ucapkan sehari-hari di pesantren. Merasa kagum ada orang indonesia yang ngomong arab begitu lancar, intinya aku kagum. Di sampingku temanku berbisik; abangku kuliah di sana.
"Emang itu di mana?"
"Di Al-Azhar Kairo, Mesir." katanya. Sejak itulah aku tahu Al-Azhar, sejak itu pula aku ingin belajar di Al-Azhar. Di buku harianku, di buku-buku tulisku, aku sering menulis biodata lengkapku, di kolom cita-citaku kutulis; Al-Azhar University. Tiap kali ada yang bertanya aku mau lanjut ke mana? Aku jawab; Al-Azhar Kairo. Hingga satu tahun kemudian, di kelas satu SMK atau kelas 4 KMI, waktu liburan pulang kampung, aku main ke rumah temanku, kakak kelasku satu tahun. Kulihat di rumahnya ada novel; KCB.
"Ini buku apa?" tanyaku.
"Itulah buku KCB yang filmnya pernah kita tonton di gedung SMK dulu."
"Punya siapa?"
"Kakakku."
"Boleh aku pinjam?"
"Boleh tapi jangan lama."
Dan akhirnya aku pinjam dan kubaca berkali-kali, sempat tiga kali khtam. Novelnya belum aku balikkan, malah aku pinjamkan ke teman yang lain yang juga temannya, belum balik sampai sekarang, mungkin ia telah menghilangkannya.
Sejak itu sampai saat ini aku berterima kasoh banyak pada penulis, Habiburrahman El-Shirazy, secara tidak langsung, beliaulah yang mengenalkanku pada Al-Azhar melalui tulisan. Film yang aku tonton jugalah hasil dari sebuah pikiran yang beliau tuliskan. Lalu satu tahun kemudian, di kelas dua SMK atau kelas 5 KMI, aku berkenalan dengan novel Ayat-Ayat Cinta, yang aku pinjam dari adik kelas, asrama sebelah. Jadi dari jauh hari sebelum ke Al-Azhar aku sudah mengakui keilmuan yang ada di dalamnya, ulamanya. Aku sangat-sangat ingin sekali belajar di Al-Azhar. Kini aku telah berada di dalamnya, belajar agama. Aku banyak bersyukur pada-Nya. Allah menjawab doa-doa hamba-Nya. Alhamdulillah.
*Oleh; #DaudFarma
"Emang itu di mana?"
"Di Al-Azhar Kairo, Mesir." katanya. Sejak itulah aku tahu Al-Azhar, sejak itu pula aku ingin belajar di Al-Azhar. Di buku harianku, di buku-buku tulisku, aku sering menulis biodata lengkapku, di kolom cita-citaku kutulis; Al-Azhar University. Tiap kali ada yang bertanya aku mau lanjut ke mana? Aku jawab; Al-Azhar Kairo. Hingga satu tahun kemudian, di kelas satu SMK atau kelas 4 KMI, waktu liburan pulang kampung, aku main ke rumah temanku, kakak kelasku satu tahun. Kulihat di rumahnya ada novel; KCB.
"Ini buku apa?" tanyaku.
"Itulah buku KCB yang filmnya pernah kita tonton di gedung SMK dulu."
"Punya siapa?"
"Kakakku."
"Boleh aku pinjam?"
"Boleh tapi jangan lama."
Dan akhirnya aku pinjam dan kubaca berkali-kali, sempat tiga kali khtam. Novelnya belum aku balikkan, malah aku pinjamkan ke teman yang lain yang juga temannya, belum balik sampai sekarang, mungkin ia telah menghilangkannya.
Sejak itu sampai saat ini aku berterima kasoh banyak pada penulis, Habiburrahman El-Shirazy, secara tidak langsung, beliaulah yang mengenalkanku pada Al-Azhar melalui tulisan. Film yang aku tonton jugalah hasil dari sebuah pikiran yang beliau tuliskan. Lalu satu tahun kemudian, di kelas dua SMK atau kelas 5 KMI, aku berkenalan dengan novel Ayat-Ayat Cinta, yang aku pinjam dari adik kelas, asrama sebelah. Jadi dari jauh hari sebelum ke Al-Azhar aku sudah mengakui keilmuan yang ada di dalamnya, ulamanya. Aku sangat-sangat ingin sekali belajar di Al-Azhar. Kini aku telah berada di dalamnya, belajar agama. Aku banyak bersyukur pada-Nya. Allah menjawab doa-doa hamba-Nya. Alhamdulillah.
*Oleh; #DaudFarma
Komentar
Posting Komentar